Sabtu, 28 April 2012

fakta unik Indonesia : Mengakhiri Masa Jabatan Lurah Dengan Calo Sertifikat Surat Tanah


teguh handoko

Fakta unik Indonesia, Aku sekarang  mantan lurah Kelurahan A, jabatan tertinggi dalam hidupku, yang memberikan aku dan keluargaku sebuah prestise. Sayang di akhir masa jabatanku sebagai lurah aku tersandung masalah. Aku terbuai dan terlena ketika seorang Calo Surat tanah mengajakku kerjasama. Ucapan manisnya membuatku lupa akan tugasku sebagai seorang Lurah, yang harus melakukan pelayanan public dengan jujur. Aku bagaikan tak berdaya mengikuti apa maunya. Apakah aku merasa “post power syndrome” takut kehilangan jabatan, yang sebentar lagi akan kulepas, memasuki masa pensiun dan berharap mendapat dana pensiun, sehingga aku mengiyakan saja ketika Calo Surat Tanah tersebut menawarkan kerjasama yang “saling menguntungkan”, ibarat mengandaikan dan mendapatkan sebuah pesangon?

Calo Surat Tanah itu sudah kabur entah kemana, dan aku meras berdosa telah ikut andil memberikan jalan kepadanya untuk melakukan penipuan kepada warga masyarakat kelurahan yang dulu aku pimpin. Untungnya aku sekarang tidak tinggal di Kelurahan A lagi, tapi tinggal di Kelurahan X yang jauh dari kelurahan A. Apa jadinya jika aku masih tinggal di kelurahan A, pasti aku akan mendapat dan menerima caci maki dari warga masyarakat yang menjadi korban penipuan Calo Surat Tanah, pasti aku dan keluargaku malu karena dianggap “ikut makan juga” uang warga yang menjadi korban penipuan Calo Surat Tanah dan yang pasti hidupku dan hidup keluargaku tidak akan pernah merasa tenang. Aku baru menyadari akan konsekuensi ini, “hasil kerjasama yang saling menguntungkan” tidak seberapa yang aku dapat, tapi beban mental, perasaan bersalah  dan perasaan dosa justru menghantuiku.
Jabatan lurah yang dulu pernah aku sandang hanyalah titipan Alloh, serta amanah yang seharusnya aku jalankan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Ternyata niat baikku menjalankan jabatan ini tidak 100 % murni. Aku masih terombang-ambing dalam urusan duniawi yang memabukkan.  Jika aku dulu berjalan dalam koridornya Alloh, Insya Alloh, Alloh akan mendampingiku, mengawasiku dan menuntunku.
Sekarang aku telah “tobattun nasuha’’, hanya Alloh yang tahu aku telah bertobat. Tapi apakah warga masyarakat Kelurahan A yang dulu pernah aku pimpin, yang menjadi korban penipuan Calo sertifikat Surat Tanah, TAHU, bahwa aku telah bertobat! Aku sadar dan memaklumi, mereka masih marah karena akibat kesalahanku juga.  Aku tahu betapa mereka berusaha sekuat tenaga mencari uang untuk mengurus pembuatan surat tanah. Usaha mereka telah aku sia-siakan, aku telah terlena akan “kerjasama yang saling menguntungkan” yang ditawarkan oleh Calo Surat Tanah.
Andaikan aku dulu “berjalan lurus” dalam mengemban jabatan sebagai Lurah, aku pasti akan di kenang oleh warga Kelurahan A yang pernah aku pimpin, sebagai orang yang berkepribadian baik dan menyandang nama baik!